Kedaulatan Energi Bangsa , apa yang terbaik yang bisa kita lakukan ??

Posted: Oktober 11, 2014 in kajian strategis bem
Tag:, , , , , , , , ,

bismillah1

Kedaulatan energi, apakah itu kedaulatan energi teman-teman? menurut world development movement kedaulatan energi adalah ” hak masyarakat untuk memiliki akses menuju energi dan membuat keputusan secara mandiri atas sumber energi berkelanjutan dan pola konsumsi yang berkelanjutan. Kedaulatan energi memberikan kontrol lokal yang lebih besar untuk sumber daya energi (dan infrastruktur transportasi), dengan manfaat dan keuntungan yang akan kembali ke komunitas lokal atau nasional.

Indonesia, negara kita tercinta dengan segala sumber dayanya yang berlimpah ruah tentu seharusnya bukan hal sulit untuk bisa menjadi negara yang berdaulat secara energi, apalagi UUD 45 pasal 33 ayat 3 secara gamblang menjelaskan bahwa : “BUMI, AIR, DAN KEKAYAAN NEGARA YANG TERANDUNG DIDALAMNYA DIKUASAI OLEH NEGARA DAN DIGUNAKAN SEBESAR BESARNYA UNTUK KEMAKMURAN RAKYAT ” tetapi apakah pada kenyataanya yang terjadi seindah “teori” yang terdapat pad UUD tersebut?

Fokus pada bagian sumber energi minyak dan gas (migas), Indonesia saat ini memiliki 263 blok minyak bumi dan gas bumi , 79 blok diantaranya telah dieksplorasi, tetapi dari 79 blok tersebut ada sekitar 55 blok yang dikelola oleh perusahaan multinasional seperti chevron, total, dan lain lain. bayangkan berapa banyak sumber daya alam kita yang telah dikeruk oleh bangsa lain? dimana kekuatan UUD yang katanya menggunakan kekayaan negara sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat sementara kekayaan negara kita sekitar 70% dari bidang minyak bumi dan gas bumi saja tidak dalam kekuasaan kita melainkan kekuasaan asing. bagaimana bisa menciptakan kedaulatan energi jika kontrol negara akan sumber kekayaan sumber alamnya hanya sekitar 30%???

Belakangan ini beredar “hot issues” jikalau kontrak kontrak perusahaan multinasional yang memonopoli blok-blok migas di Indonesia akan habis dalam jangka waktu 2015 hingga 2012 yang berarti berada pada rezim pemerintahan baru yang mempunyai tagline Indonesia Hebat. Tentunya kita semua berharap bahwa tagline HEBAT tersebut dapat merubah kearah yang lebih baik kebijakan kebijakan energi khususnya minyak dan gas di Indonesia ini. Kita pasti berharap bahwa kita dapat menguasai sektor sektor strategis blok migas yang terbentang luas diseluruh penjuru nusantara

migas

tentu saja kita semua berkeinginan kuat agar bendera bendera digambar diatas akan berganti menjadi bendera sang saka merah putih kebanggaan kita semua , bendera nasional Indonesia, bukan malah bendera bendera negara asing yang dengan nikmatnya mengeruk kekayaan alam kita untuk keuntungan mereka.

Tetapi tunggu dulu teman teman, apakah semudah itu dengan kita tidak memperpanjang kontrak dengan perusahaan multinasional maka kita akan berkuasa atas kekayaan alam kita, dan dapat berdaulat energi. Pertanyaan yang akan muncul dalam wacana pengelolaan secara mandiri sektor migas di negara kita adalah :

1. apakah sumber daya manusia kita mampu untuk mengelola secara mandiri sektor migas kita?

TENTU saja kita mampu, saya memiliki keyakinan bahwa pasti ada mereka yang akan mengabdi untuk membangun negeri, lulusan universitas baik lokal maupun di luar negeri pasti memiliki kemampuan yang mumpuni untuk menjadi tulang punggung ilmuwan dan insinyur yang berfokus pada pembangunan sektor migas kita. Ditambah lagi mereka yang telah memiliki pengalaman panjang dalam sektor migas bersama perusahaan perusahaan multinasional yang telah cukup lama beroperasi mengeksplorasi sektor migas Indonesia

2. apakah infrastruktur kita memadai?

untuk menjawab pertanyaan ini, saya perkataan bapak Rachmawan Budiarto, dosen jurusan teknik fisika universitas gadjah mada, dia mengatakan kurang lebihnya seperti ini ” pertamina sedang dalam tahap perubahan perusahaan keilmuan yang memadukan bisnis dengan research dan development” . jd infrastruktur bukan masalah terlalu besar , jika ada niat yang serius dari pemerintah yang mengusung tagline HEBAT pastinya dapat dengan hebat pula mencarikan masalah infrastruktur dalam wacana pengelolaan mandiri sektor migas

3. apakah pemerintah (eksekutif) berniat untuk mengelola secara mandiri sektor migas ?

jangan mengaku HEBAT jika tidak bisa melakukan sesuatu yang hebat untuk negara Indonesia

4. apakah KMP (koalisi penguasa parlemen) menyetujui pengelolaan secara mandiri sektor migas?

jangan mengatasnamakan “MERAH PUTIH” jika tidak ingin MERAH PUTIH berkibar seutuhnya di seluruh pelosok Indonesia

Semuanya memang akan indah jika kita semua bersatu padu untuk terus berjuang sampai titik darah penghabisan untuk membangun negara kita tercinta ini. Dengan kerjasama solid antara eksekutif dan legislatif tentunya zaman emas Indonesia seperti era Majapahit dan Sriwijaya akan kembali terulang.

Tetapi kesolidan elemen elemen internal negara sayangnya bukan satu-satunya kunci kejayaan Indonesia, memandang lebih jauh keluar, kita berada dalam komunitas yang lebih besar, baik secara regional maupun global. Dan mereka inilah “kawan-kawan” kita yang selama ini memanfaatkan dan mengeruk hasil kekayaan kita untuk kebutuhan negaranya. Dan disinilah pertanyaan yang tersulit, ” apakah negara negara asing terutama yang terkuat yaitu Amerika Serikat akan rela jika Indonesia membiarkan begitu saja kontrak pengelolaan sektor migas habis? “, ” apakah negara superpower itu akan diam saja jika sumber daya alam yang sedari dulu mereka nikmati hilang begitu saja dari genggaman?”

Hal sulit yang harus dihadapi oleh mereka yang HEBAT dan mereka yang MERAH PUTIH, adalah potensi ketidakharmonisan hubungan antara negara kita dengan negara asing tersebut. Sejarah berkata bahwa siapapun penentang sang negara adidaya akan menjadi tumbal keganasan “black campaign” dari mereka , seperti yang terjadi pada korea utara dan kuba yang selalu dicitrakan sebagai negara teroris oleh media media propaganda AS. Atau seperti  yang dialami oleh kelompok radikal Islam di timur tengah yang setiap tindak tanduknya selalu dilebih-lebihkan oleh media-media propaganda AS. Selain itu mereka dapat pula melumpuhkan sektor perekonomian kita dengan cara embargo seperti yang dilakukan terhadap Iran, juga negara negara “pemberani” lainnya seperti venezuela dan lain lain. Dan di tingkat yang jauh lebih parah pengerahan kekuatan militer bukan hal yang mustahil dilakukan, seperti yang telah terjadi di Irak.

Begitulah sepertinya sedikit potensi ancaman yang akan terjadi jika kita berani menjadi negara merdeka sepenuhnya yang tak ingin di atur oleh bangsa lain, yang tidak ingin menjadi budak bangsa lain, yang tidak mau hanya menjadi pengemis dan penjilat bangsa lain.

10 tahun masa pemerintahannya, Presiden SBY mengambil langkah strategi “save player” bermain aman, tidak melawan dan tidak terlalu membudak, efeknya stabilitas ekonomi dan politik dapat dirasakan oleh rakyat Indonesia, tidak terjadi gejolak politik sebagaiman fenomena Arab Spring yang menjatuhkan mereka para penentang Amerika seperti Khadafi, Musri, dan lain lain.

Capres dari koalisi merah putih telah berjanji dengan sedikit arogan akan merevisi kontrak kontrak pro asing, entah dengan pertimbangan matang dengan mempertimbangkan seluruh konsekuensinya atau hanya luapan nasionalisme yang luar biasa hebatnya.

Sedangkan capres terpilih yang dikenal dengan semangat merakyatnya memiliki nama baik yang luar biasa dimata dunia, dan jika berani sedikit melawan kekuatan super power, maka potensi dirusaknya nama baiknya sangat tinggi sekali, apakah demi rakyat dia berani bertaruh reputasinya di mata dunia internasional?

Kesimpulan dari masalah kedaulatan energi bangsa Indonesia bermuara pada dua pertanyaan :

1. Mau hidup aman, stabil secara politik dan ekonomi, tetapi harga diri bangsa jatuh karena tidak mampu mengelola kekayaan dari alamnya sendiri

atau

2. Mempuat sikap yang tidak populer dimata asing , semata mata demi kedaulatan dan kemakmuran rakyat dengan potensi keuntungan rupiah yang sangat besar tiap harinya , dengan resiko menghadapi potensi ketidaksenangan asing akan sikap internasional negara kita Indonesia

Terinspirasi setelah berdiskusi dengan Bapak Rachmawan Budiarto, dosen jurusan teknik fisika UGM.

semoga bermanfaat dan membuka pikiran kita semua

Komentar
  1. t.fasa03 mengatakan:

    ini fulgar banget nggak suka cappres terpilih ya??😀 astaghfirullaaah

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s