Pemimpin Besar Revolusi, Proklamator sekaligus Presiden Pertama Republik Indonesia. PUTRA SANG FAJAR Ir.SUKARNO

Posted: Juni 7, 2011 in sejarah hari besar nasional, tokoh nasional
Tag:, , , , , , , , , , , , ,

Suatu kejadian sejarah luar biasa dimulai di pagi buta tanggal 6 Juni 1901 , Raden Soekeni Sosrodihardjo seorang guru pada masa kolonial Belanda merasa sangat cemas atas keselamatan istrinya  Ida Ayu Nyoman Rai yang sedang melahirkan anak keduanya .  Kedua suami istri ini mengharapkan anak keduanya adalah seorang lelaki dan entah kenapa sebelum kelahiran anak keduanya kedua suami istri ini berfirasat bahwa anak yang akan lahir kelak akan menjadi seorang pemimpin besar di sebuah negara baru.

Menjelang fajar menyingsing terdengar suara tangisan bayi di tempat persalinan Ida Ayu, ternyata benar seorang bayi lelaki dengan tangisan yang sangat kuat telah lahir kedunia tepat disaat fajar menyingsing menyinari rumah keluarga Soekeni pada tanggal 06 Jui 1901 di dekat pemakaman Belanda di kota Surabaya.  Dengan bangga Soekeni menimang anaknya dan berkata ” engkau adalah Putra Sang Fajar yang kelak akan memimpin bangsa ini menuju kejayaan”  . Bayi yang baru lahir itu diberi nama Soesno Sosrodihardjo yang kelak seluruh dunia akan mengenalnya sebagai orator paling ulung di muka bumi yang berasal dari negara Besar di Asia Tenggara bernama Indonesia , orator ulung sekaligus Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Ir.Sukarno. Orang tuanya menggganti nama Soesno Sosrodihardjo menjadi Sukarno karena namanya diangap tidak mengundang berkah dikarenakan ia sering sakit-sakitan . Sukarno diambil dari salah seorang tokoh Kurawa dalam kisah Bharatayuda yaitu Karna . Hanya beberapa waktu setelah Sukarno dilahirkan, Soekeni dipindahtugaskan ke Blitar dan seluruh keluarganya pun pindah ke Blitar.

Sukarno muda, banyak memperoleh ilmu kebatinan dari ibundanya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai yang merupakan keturunan bangsawan hindu dari Bali. Ilmu inilah yang diyakini menjadikan Sukarno sebagai orang yang kuat secara metafisika. Hanya beberapa tahun tinggal bersama orang tuanya setelah pindah ke Blitar  , Sukarno kecil tinggal bersama kakeknya Raden Hardjokrmo di Tulung Agung  dan menamatkan pendidikan dasar di Tulung Agung. Setelah itu berhubung ayahnya dipindah tugaskan di Eerste Inlandse School (ELS) Sukarno mengikuti ayahnya pindah ke Mojokerto dan bersekolah di Eerste Inlandse School. Setelah menamatkan pendidikan di Eerste Inlandse School , Sukarno melanjutkan pendidikan ke Hoogere Burger School (HBS) Sukarno dapat menimba ilmu di Hoogere Burger School  di Surabaya berkat bantuan salah seorang tokoh pergerakan nasional bernama H.O.S Tjokroaminoto yang kebetulan merupakan sahabat ayahnya.

Di Surabaya Sukarno tinggal dirumah H.O.S Tjokroaminoto, di sinilah nasionalisme Sukarno terbentuk karena Sukarno banyak bertemu dengan tokoh pergerakan nasional saat itu khususnya yang tergabung dalam Sarekat Islam (S.I) pimpinan H.O.S Tjokroaminoto seperti Musso (S.I Merah) , Agus Salim & Abdul Muis (S.I Putih).  S.I Merah dikemudian hari akan memisahkan diri dari S.I dan membentuk Partai Komunis Indonesia (PKI) . H.O.S Tjokroaminoto mempunyai peran yang sangat besar bagi terbentuknya kepribadia Sukarno karena selain sebagai pintu masuk Sukarno ke dalam organisasi pemuda pergerakan nasional seperti Tri Koro Darmo dan Budi Utomo , Sukarno juga diberikan kesempatan menyalurkan ide-idenya melalui harian “Oetoesan Hindia” yang dipimpin H.O.S Tjokroaminoto.

Tahun 1920 Sukarno menamatkan pendidikannya di HBS dan melanjutkan pendidikan di Technische Hoge School (ITB)  Bandung , Sukarno mengambil jurusan teknik sipil , Di Bandung Sukarno tinggal di rumah Haji Sanusi seorang anggota Sarekat Islam ,sahabat dari Tjokroaminoto. Di Bandung rasa Nasionalis Sukarno makin berkembang karena ia kerap berinteraksi dengan lebih banyak tokoh pergerakan seperti Ki Hajar Dewantara , Douwes Dekker , dan juga Cipto Mangunkusumo yang ketiganya merupakan tokoh Indische Partij.

Selesai menimba ilmu di ITB tahun 1926 Sukarno memperoleh gelar “Ir” yang saat itu masih sangat langka warga pribumi memperoleh gelar “Ir” . Sukarno makin aktif dalam perjuangan pergerakan nasional dengan mendirikan Algemene Studie Club   yang merupakan cikal bakal Partai Nasional Indonesia , didirikan tahun 1927 PNI bersama Sukarno banyak melakukan aktivitas yang meresahkan Belanda sehingga pada tahun 1929 Sukarno ditangkap dan dipenjarakan di penjara Banceuy hingga 1930 ia dipindahkan di penjara Sukamiskin, pada saat dipenjarakan di Sukamiskin inilah Sukarno mengajukan pidato pledoinya yang sangat terkenal yang berjudul Indonesia Menggugat hingga akhirnya ia ia dibebaskan pada Desember 1931.

Saat Sukarno dipenjara, PNI mengalami perpecahan dengan dibentuknya Partai Indonesia(PARTINDO) . Sukarno selepas dari penjara bergabung dengan Partindo dan memulai kembali aktifitas politiknya, dan Belanda pun kembali resah terhadap aktifitas politik Sukarno hingga kembali menangkapnya dan kemudian mengasingkan Sukarno ke Ende, Flores pada tahun 1933. Di Flores Sukarno terputus koneksinya dengan tokoh pergerakan pusat sehingga hampir tidak lagi dianggap.

Suasana flores yang tenang tidak seramai di Jawa membuat Sukarno banyak memikirkan konsep-konsep mengenai Republik Indonesia kelak setelah merdeka 5 butir kalimat Pancasila merupakan salah satu hasil pemikiran Sukarno di Ende, Sukarno sering merenung di bawah pohon besar yang menghadap ke laut di tepian pulau Ende, di tempat Sukarno biasa merenungkan idenya kini telah dibangun monumen Sukarno untuk mengenangnya. Di Ende pulalah Sukarno memprakarsai tonil (semacam grup teater) bernama toneel grup kelimutu yang selalu tampil di komplek gereja di Ende. Karena di Ende belum ada bioskop saat itu , penampilan grup tonil Sukarno selalu ramai di tonton orang. Salah satu naskah teater Sukarno saat itu yang berjudul “1945”  mebuat seolah Sukarno memiliki indera keenam karena dalam naskah tersebut dikisahkan bawah Indonesia akan merdeka pada tahun 1945 , sesuatu yang baru akan terjadi 15 tahun setelah naskah tersebut selesai dibuat.

Pada tahun 1938 Sukarno dipindahkan ke pulau Bengkulu hingga saat Jepang datang ke Indonesia, propaganda Jepang yang ingin menarik simpati bangsa Indonesia membuat Jepang membebaskan seluruh tahanan politik pada masa Belanda. Bukan hanya membebaskan, tetapi Jepang pun mendirikan banyak organisasi-organisasi kepemudaan yang diisi oleh para tokoh pergerakan nasional seperti contohnya PUTERA(Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin oleh 4 serangkai (Sukarno,Hatta,Ki Hajar Dewantoro,KH Mas Mansyur). Sukarno terkenal sebagai seorang tokoh yang mengandalkan cara kooperatif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yaitu berjuang tanpa kekerasan , prinsip itulah yang menyebabkan ia tidak pernah terburu-buru saat mengambil keputusan seperti saat golongan bawah tanah memaksanya membacakan proklamasi pada tanggal 15 Agustus ia menolak dengan alasan walaupun Jepang telah kalah perang tetapi tetap tidak bisa ditandingi secara militer oleh Indonesia.

Ahirnya pada tanggal 16 Agustus malam golongan bawah tanah mengamankan Sukarno yang dianggap telah terkontaminasi pengaruh Jepang ke daerah Rengasdengklok di Karawang, setelah diyakinkan bahwa keesokan harinya pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan saat yang paling tepat bagi bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya Sukarno pun dipulangkan ke Jakarta dan langsung mengadakan rapat bersama para anggota PPKI di rumah laksamada Tadashi Maeda , seorang perwira angkatan laut Jepang yang berpihak pada Indonesia.  Mereka membahas pelaksanaan proklamsi kemerdekaan Indonesia yang rencananya digelar di lapangan ikada (sekarang MONAS) , dan merumuskan teks proklamasi bersamaan dengan pelaksanaan makan sahur karena saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Akhirnya teks proklamasi tulisan tangan Sukarno selesai dengan banyak koreksi dan sesuai kesepakatan ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia , naskah asli tulisan Sukarno di ketik ulang oleh Sayuti Melik dan akhirnya dibuang sebelum dipungut dari tempat sampah oleh wartawan B.M Diah.

Pagi harinya pasukan PETA melaporkan bahwa Jepang telah bersiaga di lapangan Ikada, untuk mengantisipasi keadaan Sukarno memindahkan pembacaan proklamasi ke rumahnya di Pegangsaan Timur 56 Jakarta. dengan keadaan lemas karena penyakit malaria yang dideritanya ditambah kelelahan akibat bergadang semalaman mempersiapkan proklamasi dengan kawan-kawannya Sukarno membacakan Proklamasi dengan khidmat dan penuh wibawa dalam sebuah upacara sederhana di depan rumahnya.

Keesokan harinya pada 18 Agustus 1945 Sukarno bersama Hatta dipilih secara aklamasi sebagai Presiden dan Wakil Presiden oleh anggota PPKI atas usulan tokoh Pasundan Otto Iskandardinata. dengan naiknya Sukarno sebagai Presiden telah membuktikan firasat kedua orang tuanya saat Sukarno lahir karena ia benar-benar menjadi Putra Sang Fajar Pemimpin Negara baru bernama Indonesia.

Kisah sejarah mengenai perjuangan tokoh besar nasional tidak boleh lekang oleh waktu dan harus selalu dilestarikan oleh kaum muda yang kelak akan mewarisi semangat para pahlawan untuk membangun negeri Indonesia yang sejahtera. Karena masa depan bangsa ada di tangan kaum muda, dan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya sehingga kaum muda calon pemimpin bangsa haruslah memahami dan mewarisi semangat para pahlawannya ..

Selamat hari jadi ke-110 Ir.Sukarno

Maju terus, Pantang mundur !!
Komentar
  1. SiegHeil!! mengatakan:

    Naon Sih Membosankan Cik Atuh Ngabahas Teh Tonk nu geus loba di buku buku Nu harga na Teu nepi 20 rebu Cuih.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s