Memasuki tanggal 21 April di Indonesia setiap tahunnya selalu diramaikan oleh euphoria hari Kartini, hari yang dinamai dengan nama seorang Pahlawan Wanita yang karena dirayakan tiap tahun sudah barang tentu nama Raden Ajeng Kartini menjadi nama pahlawan wanita paling terkenal dari hanya sedikit wanita yang telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional Indonesia (hanya 13 dari 173)

Satu hal esensial yang seringkali dilupakan oleh masyarakat tiap saat perayaan hari Kartini adalah alasan mengapa Kartini? Mengapa bukan pimpinan perjuangan seperti Cut Nyak Dien yang bergerilya di Aceh ujung barat Indonesia, atau Christina Martha Tiahahu, perwira militer dari Timur Indonesia. Mengapa pula bukan mereka yang beraksi lebih konkrit dibidang pendidikan seperti Dewi Sartika dengan Sakola Kaoetamaan Istri yang merupakan sekolah pertama yang diperuntukan bagi kaum wanita.

Lalu sudahkah pada tiap momentum hari Kartini masyarakat Indonesia diarahkan untuk mengetahui alasan mengapa Kartini yang dipilih? Apakah event event yang digalakkan tiap tahun tersebut ada yang mencerahkan tentang kepahlawanan Kartini, atau bahkan kepahlawanan wanita secara umum, baik era pra maupun pasca kemerdekaan. Jika dirasa masih kurang, sejak dimulai tahun 1964 terhitung sudah 54 kali perayaan hari Kartini, lalu dirayakan seperti apa sehingga tiap tahunnya masih selalu terdengar suara suara berisik tentang siapa-siapa yang seharusnya hari lahirnya diabadikan secara nasional. Silahkan masukan keyword “perayaan hari kartini” pada mesin pencari google niscaya akan ditemukan banyak pawai pawai baju tradisional yang mewarnai perayaan hari Kartini, menimbulkan bias apa hubungan antara perayaan hari Kartini dengan kebanggaan menggunakan baju tradisional? Tentu saja dengan penuh keyakinan dapat saya katakana bahwa Busana Tradisional Daerah tentu merupakan sesuatu yang baik, patut dilestarikan, tapi jelas HARI KARTINI bukan tempat untuk sekedar memamerkan busana tradisional, tidak pada tempatnya dan sama sekali mendiskreditkan nilai-nilai Hari Kartini yang sesungguhnya bisa sangat keren sekali jika didalami lebih mendalam.

Jika saya berwenang, tentu saja Inggit Garnasih lah seorang wanita yang harus diingat namanya tiap tahun, tapi tentu saja pasti akan ada pertanyaan sejenis setelahnya yaitu Mengapa Inggit? Dan kisah lama yang terulang kembali ketika perayaan hari Inggit tiap tahunnya tidak dirayakan sebagaimana mestinya melainkan salah fokus.

Terlepas dari segala subjektivitas pribadi untuk lebih mendalami dan menemukan jawaban atas pertanyaan “mengapa” sudah saatnya kita sedikit berkelana ke masa lampau, menjelajahi dunia di waktu dan tempat ketika para pahlawan wanita eksis memperjuangkan tujuannya masing-masing yang tentu saja saling berbeda satu sama lain.

Raden Ajeng Kartini

Jawa Tengah, awal abad 20

Kartini merupakan sosok luar biasa yang berjuang menghancurkan rantai kehidupan yang menjeratnya yaitu rantai berupa belengu feodalisme budaya, dimana anak gadis semenjak pubertas hanya bisa dipinggit didalam lingkungan rumahnya hingga kelak datang lelaki untuk meminang, sebuah kenyataan pahit yang tentu saja didukung kolonial Belanda, dimana prinsip feodalisme ala penjajah diterapkan juga pada kaum ningrat, dimana bangsawan pribumi banyak yang menerapkan gaya hidup feodalisme ala penjajah sehingga terbentuk sekat-sekat kasta antara bangsawan dan non-bangsawan, sekat-sekat yang sangat efektif bagi penjajah untuk meredam persatuan dan perkembangan sumber daya manusia pribumi.

Bayangkan bahwa Raden Ajeng Kartini lahir dan besar dalam kondisi demikian terjajah, terjajah oleh bangsa asing, ditambah terjajah dengan feodalisme bangsawan pribumi dengan seabrek nilai-nilai konservativ yang sangat membatasi ruang gerak wanita, patut dikagumi bahwa Kartini sama sekali tidak takluk maupun tunduk terhadap ketidakadilan yang menjerat layaknya gadis-gadis bangsawan lainnya. Kartini keluar dari zona mainstream pada saat itu, mendobrak kebiasaan yang telah membudaya, untuk sekedar melebarkan sayap pengetahuannya sendiri dengan sumber daya yang serba terbatas.

 Beruntung saat itu sedang digalakkan politik etis, dimana kaum sosialis demokrat di Belanda menuntut keadilan dan kehidupan lebih layak khususnya bidang pendidikan bagi warga jajahan di Hindia Belanda. Kartini beruntung antusiasme dirinya dalam menuntut ilmu dan bakat terpendamnya terendus oleh beberapa bangsawan Belanda, dan ia pun berkesempatan untuk berkorespondensi dengan keluarga Abendanon, yang kelak akan menghimpun segala ide dan pemikiran Kartini yang bersumber dari surat-surat Kartini menjadi sebuah buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Sebuah buku yang berasal dari ide ide cemerlang seorang gadis yang terbelengu rantai feodalisme yang ingin sedikit lebih setara dengan kaum pria khususnya dibidang pendidikan.

Sungguh disayangkan Kartini dijegal dalam berbagai cara untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi di Eropa hingga akhir hayatnya Kartini tidak berkesempatan menginjakan kaki di Eropa, sebuah tempat dimana kebebasan berpendidikan sudah dihargai bagi siapapun, walaupun perlu diingat bahwa Eropa diawal abad 20 belum sepenuhnya terlepas dari bias gender dalam bidang pendidikan.

 Tidak berhenti sampai disitu, sebagai seorang ningrat Kartini menggunakan powernya untuk memperjuangkan pendidikan rakyat khususnya kaum wanita, walaupun hanya dalam ruang lingkupnya sendiri, tapi mengingat kejamnya nila-nilai budaya feodalisme terutama berbagai larangan dan pantangan yang berlaku hanya untuk kaum wanita, apa yang dengan berani dilakukan Kartini merupakan sebuah hal yang sungguh luar biasa.

Dibalik kritikan terhadap Kartini yang mayoritas mengatakan bahwa Kartini tidak beraksi lebih, setidaknya kita bisa tahu mengapa ia tidak bisa beraksi lebih, karena dinding tebal bernama feodalisme. Kebiasaan yang melemahkan masyarakat secara kolektif.

Masih dibidang pendidikan, di waktu yang berdekatan tetapi terpisah  ratusan kilometer dari Jepara kota tempat tinggal Kartini tepatnya di tanah Pasundan, seorang wanita bernama Dewi Sartika dengan semangat dan keresahan yang sama akan kondisi pendidikan kaum wanita mendirikan Sekolah Kaoetamaan Istri. Sekolah pertama khusus kaum wanita, dimana selain diberikan kurikulum yang menyerupai kurikulum sekolah Belanda, di sekolah ini pun para siswa dilatih menguasai skill-skill spesialis wanita seperti merenda, memasak, dan menjahit. Dengan bantuan yang sama seperti yang diperoleh Kartini yaitu bantuan dari orang-orang kolonial yang mendukung politik etis, Sekolah yang dirintis Dewi Sartika ini berdiri menyebar di tanah Pasundan.

Sekilas mungkin terlihat lebih konkrit, sehingga banyak yang menyuarakan Dewi Sartika lebih layak diagungkan diabanding Kartini, terlepas dari lebih layak atau tidaknya seorang Dewi Sartika diagungkan, patut kita ingat bahwa Kartini berjuang untuk melawan dua hal, penjajahan kolonial, dan penjajahan oleh adat istiadat sendiri, feodalisme adat yang kemungkinan tidak dianut masyrakat Sunda.

Laksamana Keumalahayati

Aceh, awal abad 17

3 abad sebelum perjuangan Kartini dalam bidang pendidikan dimulai, jauh diujung barat Indonesia tempat berkuasanya Kesultanan Aceh, terdapat seorang perwira militer dengan gelar Laksamana, yang ternyata dijabat oleh seorang wanita.

Lupakan saja tokoh fiksi Yara Greyjoy yang menjadi Laksamana wanita pada serial Game of Thrones,  dalam sejarah nyata Nusantara pernah hidup seorang Laksamana wanita bernama Malahayati, jabatan tinggi yang mungkin tak pernah terbayangkan bahkan oleh Kartini bisa diduduki oleh seorang wanita. Ketika Yara tak berkutik ketika berhadapan dengan pamannya Euron, Laksamana Malahayati malah sebaliknya, ia berhasil mengeksekusi Cornelis de Houtman, pemimpin armada Belanda yang saat itu sedang berada pada masa awal monopoli dagang di Nusantara. Dalam kapasitasnya sebagai Laksamana, Malahayati membentuk sebuah pasukan khusus yang terdiri dari barisan Janda dari para prajurit yang gugur di medan perang, barisan Janda berani mati ini menjadi hal unik dan menarik karena terdiri dari unsur yang tidak biasa, serta memiliki kemampuan tempur yang tidak kalah dibandingkan pasukan lainnya.

Melihat lebih jauh ke seluruh dunia, apakah ada tokoh terkenal dunia yang sering diperbincangkan saat ini seorang Laksamana militer yang diduduki oleh wanita? Indonesia patut bangga dan wajib menduniakan nama Laksamana Malahayati ke seantero dunia, sebagai Laksamana gemilang yang sukses menghadang gelombang pertama penjajahan Belanda dengan skill militer serta kemampuan memimpin yang mumpuni.

Dari sini sebuah fakta menarik dapat kita temui, bias gender sudah tidak berlaku di Aceh pada abad 17, bagaimana mungkin hal tersebut muncul bahkan sebagai budaya di Jawa Tengah pada abad 20 ?

Sosok wanita dibidang militer atau perjuangan fisik tidak hanya Laksamana Malahayati seorang, kita juga sudah akrab dengan sosok Cut Nyak Dien, pejuang Aceh penerus perjuangan gerilya suaminya yaitu Teuku Umar yang pantang menyerah terhadap Belanda walaupun suaminya gugur, dan ia melanjutkan perjuangan dalam kondisi mata yang tidak 100% sehat, dan dalam kondisi fisik yang serba kekurangan. Cut Nyak Dien tak pernah kalah, perlu pengkhianat dari dalam pasukan Cut Nyak Dien sendiri baru Belanda bisa mengakhiri perjuangannya dengan cara yang tidak heroik. Sebuah bangsa penjajah dengan militer yang lebih mumpuni, GAGAL mengalahkan pasukan gerilya yang dipimpin Cut Nyak Dien dengan cara terhormat.

Inggit Garnasih

Secara subjektif saya akan selalu mengagumi Inggit, dan menjadikannya pahlawan wanita terhebat sepanjang sejarah Indonesia. Tentunya bukan tanpa alasan, dan saya rasa hanya takdir politik lah yang membuat sampai sekarang Inggit Garnasih tidak diangkat sebagai pahlawan nasional, meskipun pengorbanannya mungkin puluhan kali lipat dibanding Fatmawati dan Ibu Tien, kedua ibu negara yang jadi pahlawan nasional.

Inggit Garnasih, istri dari Sanusi, pengikut Tjokroaminoto di Sarekat Islam cabang Bandung. Sang Raja Jawa tanpa mahkota kemudian menitipkan mantu serta anaknya untuk indekos ditempat mereka, kebetulan Kusno Sosrodiharjo sang mantu merupakan satu dari sedikit pribumi yang mampu berkuliah di Technische Hogeschool, sebuah perguruan tinggi teknik ala Leiden yang didirikan di Bandung. Kusno membawa serta istrinya yaitu Utari Tjokroaminoto dalam rantaunya. Pernikahan dini antara Kusno dan Utari berlangsung singkat, Kusno yang dikenal secara nasional sebagai Sukarno menjelma menjadi tokoh pergerakan, aktifitas politiknya tidak main-main, Partai Nasional Indonesia didirikannya meresahkan pemerintah kolonial. Tentu saja dunia pergerakan yang dialami oleh Sukarno membutuh sokongan yang kuat dari seluruh lini kehidupan tak luput pendamping hidup Sukarno wajib bisa mengimbangi sepak terjang Sukarno, dan anak remaja macam Utari tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Bukan kepada Utari, Sukarno menemukan sosok pendamping dalam dunianya melainkan kepada sang ibu kos, Inggit Garnasih. Inggit lah yang menjadi pengemong Sukarno kala itu, menjadi tempatnya berkeluh kesah, menjadi tempatnya untuk berdiskusi, hingga akhirnya Utari dikembalikan kepada orangtuanya dan atas bantuan lobby dari Tjokroaminoto sendiri akhirnya Inggit diberikan kepada Sukarno, resmilah Sukarno dan Inggit menjadi suami istri.

Kehidupan pasca pernikahan tentu bukanlah kehidupan yang mudah, karena pernikahan ini didasari perjuangan kemerdekaan, bukan sekedar arena untuk memadu kasih. Disamping tanggungjawab studi yang membebani Sukarno, pergerakan progresifnya membuat penjara menjadi tempat yang akrab dengannya, dari mulai penjara Banceuy hingga Sukamiskin. Apakah pergerakan politik Sukarno berhenti dengan hukuman penjara? Tentu saja tidak, tak lain dan tak bukan Inggit punya andil untuk terus melanjutkan perjuangan, dengan turut serta berperan mencari nafkah ketika penjara menghalangi Bung Karno, tak pernah lelah berjalan kaki bersama sang anak angkat Ratna Djuami dari rumahnya ke Sukamiskin yang di tahun 2018 saja bisa menghabiskkan waktu 45 menit naik motor, hanya demi membesarkan hati Sukarno serta menjaga agar api yang berkobar dalam diri Bung Karno tidak pernah padam.

Penjara bukan satu-satunya rintangan, pengasingan menjadi yang paling berat, tetapi seberat apapun tidak ada sedikitpun niat Inggit untuk tidak mendampingi sang Pemimpin Besar Revolusi dalam masa-masa sulitnya. Mungkin tidak berlebihan bahwa tanpa Inggit mungkin Bung Karno bisa kehilangan api yang kelak kemudian hari digunakan olehnya untuk membakar semangat rakyat Indonesia untuk menyatakan kemerdekaannya. Inggit yang berjuang tanpa senjata, tanpa impian akan pendidikan, tetapi konsisten menjalani peran sebagai wanita yang mengikatkan diri kepada yang terkasih atas dasar perjuangan kemerdekaan. Walaupun kisah cinta tersebut harus diakhiri secara tragis melebihi tragisnya Red Wedding ketika cinta Robb Stark dan Talisa harus diakhiri juga.

Beberapa contoh yang saya bawakan diatas tentu punya alasan kuat untuk diperingati hari lahirnya sebagai hari besar nasional, tetapi tidak mungkin diputuskan sebuah keputusan yang paling adil karena bidang perjuangan yang beragam, juga kisah-kisah heroiknya yang belum tentu disebarluaskan secara global. Dalam hal ini Kartini memiliki keunggulan karena karyanya justru dipublikasikan orang barat, dan memblow up Kartini tentu saja menggambarkan bahwa ada pemikiran wanita Indonesia yang tidak kalah modern dibanding wanita barat. Sesimpel itu tapi itulah satu-satunya alasan logis, “mengapa harus Kartini”

Jauh lebih penting dibandingkan sekedar mempertanyakan “mengapa”, adalah mengetahui “bagaimana” tiap-tiap pahalawan wanita tersebut berjuang. Dan pada momen Kartinian inilah seharusnya orang-orang yang berwenang serta memiliki expertise khusus dapat memvisualisasikan perjuangan mereka, mengabadikan sepak terjang mereka dalam ingatan generasi muda, serta terus berusaha menyampaikan kisah-kisah heroic mereka para pahlawan wanita, agar bukan hanya namanya saja yang abadi, tapai sifat luhurnya menjadi role model bagi anak bangsa.

Saya membayangkan suatu saat di momen hari Kartini, layar kaca dipenuhi acara-acara edukatif tentang perjuangan pahlawan wanita, dikemas secara keren dan kekinian serta tidak hanya berisi wawancara-wawancara khas dokumenter yang mungkin membosankan dimata generasi milenial.

Saya berimajinasi bahwa pada momen hari Kartini poster XXI dan CGV dipenuhi oleh Box Office yang mengangkat kisah kepahlawanan para pahlawan wanita yang dramatis dan dilengkapi efek visual yang mengagumkan.

Saya sering berkhayal munculnya berbagai pameran ataupun pentas seni yang bertemakan kepahlawanan wanita, sehingga perayaan tidak fokus pada busana melainkan pada nilai-nilai kepahlawanan luhur yang telah ditorehkan deretan pahlawan wanita yang dimiliki Indonesia.

dan saya sungguh berharap seluruh bayangan, imajinasi, dan khayalan sayang akan terwujud suatu saat nanti.

Selamat Hari Kartini 2018

Iklan

bismillah1

Kedaulatan energi, apakah itu kedaulatan energi teman-teman? menurut world development movement kedaulatan energi adalah ” hak masyarakat untuk memiliki akses menuju energi dan membuat keputusan secara mandiri atas sumber energi berkelanjutan dan pola konsumsi yang berkelanjutan. Kedaulatan energi memberikan kontrol lokal yang lebih besar untuk sumber daya energi (dan infrastruktur transportasi), dengan manfaat dan keuntungan yang akan kembali ke komunitas lokal atau nasional.

Indonesia, negara kita tercinta dengan segala sumber dayanya yang berlimpah ruah tentu seharusnya bukan hal sulit untuk bisa menjadi negara yang berdaulat secara energi, apalagi UUD 45 pasal 33 ayat 3 secara gamblang menjelaskan bahwa : “BUMI, AIR, DAN KEKAYAAN NEGARA YANG TERANDUNG DIDALAMNYA DIKUASAI OLEH NEGARA DAN DIGUNAKAN SEBESAR BESARNYA UNTUK KEMAKMURAN RAKYAT ” tetapi apakah pada kenyataanya yang terjadi seindah “teori” yang terdapat pad UUD tersebut?

Fokus pada bagian sumber energi minyak dan gas (migas), Indonesia saat ini memiliki 263 blok minyak bumi dan gas bumi , 79 blok diantaranya telah dieksplorasi, tetapi dari 79 blok tersebut ada sekitar 55 blok yang dikelola oleh perusahaan multinasional seperti chevron, total, dan lain lain. bayangkan berapa banyak sumber daya alam kita yang telah dikeruk oleh bangsa lain? dimana kekuatan UUD yang katanya menggunakan kekayaan negara sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat sementara kekayaan negara kita sekitar 70% dari bidang minyak bumi dan gas bumi saja tidak dalam kekuasaan kita melainkan kekuasaan asing. bagaimana bisa menciptakan kedaulatan energi jika kontrol negara akan sumber kekayaan sumber alamnya hanya sekitar 30%???

Belakangan ini beredar “hot issues” jikalau kontrak kontrak perusahaan multinasional yang memonopoli blok-blok migas di Indonesia akan habis dalam jangka waktu 2015 hingga 2012 yang berarti berada pada rezim pemerintahan baru yang mempunyai tagline Indonesia Hebat. Tentunya kita semua berharap bahwa tagline HEBAT tersebut dapat merubah kearah yang lebih baik kebijakan kebijakan energi khususnya minyak dan gas di Indonesia ini. Kita pasti berharap bahwa kita dapat menguasai sektor sektor strategis blok migas yang terbentang luas diseluruh penjuru nusantara

migas

tentu saja kita semua berkeinginan kuat agar bendera bendera digambar diatas akan berganti menjadi bendera sang saka merah putih kebanggaan kita semua , bendera nasional Indonesia, bukan malah bendera bendera negara asing yang dengan nikmatnya mengeruk kekayaan alam kita untuk keuntungan mereka.

Tetapi tunggu dulu teman teman, apakah semudah itu dengan kita tidak memperpanjang kontrak dengan perusahaan multinasional maka kita akan berkuasa atas kekayaan alam kita, dan dapat berdaulat energi. Pertanyaan yang akan muncul dalam wacana pengelolaan secara mandiri sektor migas di negara kita adalah :

1. apakah sumber daya manusia kita mampu untuk mengelola secara mandiri sektor migas kita?

TENTU saja kita mampu, saya memiliki keyakinan bahwa pasti ada mereka yang akan mengabdi untuk membangun negeri, lulusan universitas baik lokal maupun di luar negeri pasti memiliki kemampuan yang mumpuni untuk menjadi tulang punggung ilmuwan dan insinyur yang berfokus pada pembangunan sektor migas kita. Ditambah lagi mereka yang telah memiliki pengalaman panjang dalam sektor migas bersama perusahaan perusahaan multinasional yang telah cukup lama beroperasi mengeksplorasi sektor migas Indonesia

2. apakah infrastruktur kita memadai?

untuk menjawab pertanyaan ini, saya perkataan bapak Rachmawan Budiarto, dosen jurusan teknik fisika universitas gadjah mada, dia mengatakan kurang lebihnya seperti ini ” pertamina sedang dalam tahap perubahan perusahaan keilmuan yang memadukan bisnis dengan research dan development” . jd infrastruktur bukan masalah terlalu besar , jika ada niat yang serius dari pemerintah yang mengusung tagline HEBAT pastinya dapat dengan hebat pula mencarikan masalah infrastruktur dalam wacana pengelolaan mandiri sektor migas

3. apakah pemerintah (eksekutif) berniat untuk mengelola secara mandiri sektor migas ?

jangan mengaku HEBAT jika tidak bisa melakukan sesuatu yang hebat untuk negara Indonesia

4. apakah KMP (koalisi penguasa parlemen) menyetujui pengelolaan secara mandiri sektor migas?

jangan mengatasnamakan “MERAH PUTIH” jika tidak ingin MERAH PUTIH berkibar seutuhnya di seluruh pelosok Indonesia

Semuanya memang akan indah jika kita semua bersatu padu untuk terus berjuang sampai titik darah penghabisan untuk membangun negara kita tercinta ini. Dengan kerjasama solid antara eksekutif dan legislatif tentunya zaman emas Indonesia seperti era Majapahit dan Sriwijaya akan kembali terulang.

Tetapi kesolidan elemen elemen internal negara sayangnya bukan satu-satunya kunci kejayaan Indonesia, memandang lebih jauh keluar, kita berada dalam komunitas yang lebih besar, baik secara regional maupun global. Dan mereka inilah “kawan-kawan” kita yang selama ini memanfaatkan dan mengeruk hasil kekayaan kita untuk kebutuhan negaranya. Dan disinilah pertanyaan yang tersulit, ” apakah negara negara asing terutama yang terkuat yaitu Amerika Serikat akan rela jika Indonesia membiarkan begitu saja kontrak pengelolaan sektor migas habis? “, ” apakah negara superpower itu akan diam saja jika sumber daya alam yang sedari dulu mereka nikmati hilang begitu saja dari genggaman?”

Hal sulit yang harus dihadapi oleh mereka yang HEBAT dan mereka yang MERAH PUTIH, adalah potensi ketidakharmonisan hubungan antara negara kita dengan negara asing tersebut. Sejarah berkata bahwa siapapun penentang sang negara adidaya akan menjadi tumbal keganasan “black campaign” dari mereka , seperti yang terjadi pada korea utara dan kuba yang selalu dicitrakan sebagai negara teroris oleh media media propaganda AS. Atau seperti  yang dialami oleh kelompok radikal Islam di timur tengah yang setiap tindak tanduknya selalu dilebih-lebihkan oleh media-media propaganda AS. Selain itu mereka dapat pula melumpuhkan sektor perekonomian kita dengan cara embargo seperti yang dilakukan terhadap Iran, juga negara negara “pemberani” lainnya seperti venezuela dan lain lain. Dan di tingkat yang jauh lebih parah pengerahan kekuatan militer bukan hal yang mustahil dilakukan, seperti yang telah terjadi di Irak.

Begitulah sepertinya sedikit potensi ancaman yang akan terjadi jika kita berani menjadi negara merdeka sepenuhnya yang tak ingin di atur oleh bangsa lain, yang tidak ingin menjadi budak bangsa lain, yang tidak mau hanya menjadi pengemis dan penjilat bangsa lain.

10 tahun masa pemerintahannya, Presiden SBY mengambil langkah strategi “save player” bermain aman, tidak melawan dan tidak terlalu membudak, efeknya stabilitas ekonomi dan politik dapat dirasakan oleh rakyat Indonesia, tidak terjadi gejolak politik sebagaiman fenomena Arab Spring yang menjatuhkan mereka para penentang Amerika seperti Khadafi, Musri, dan lain lain.

Capres dari koalisi merah putih telah berjanji dengan sedikit arogan akan merevisi kontrak kontrak pro asing, entah dengan pertimbangan matang dengan mempertimbangkan seluruh konsekuensinya atau hanya luapan nasionalisme yang luar biasa hebatnya.

Sedangkan capres terpilih yang dikenal dengan semangat merakyatnya memiliki nama baik yang luar biasa dimata dunia, dan jika berani sedikit melawan kekuatan super power, maka potensi dirusaknya nama baiknya sangat tinggi sekali, apakah demi rakyat dia berani bertaruh reputasinya di mata dunia internasional?

Kesimpulan dari masalah kedaulatan energi bangsa Indonesia bermuara pada dua pertanyaan :

1. Mau hidup aman, stabil secara politik dan ekonomi, tetapi harga diri bangsa jatuh karena tidak mampu mengelola kekayaan dari alamnya sendiri

atau

2. Mempuat sikap yang tidak populer dimata asing , semata mata demi kedaulatan dan kemakmuran rakyat dengan potensi keuntungan rupiah yang sangat besar tiap harinya , dengan resiko menghadapi potensi ketidaksenangan asing akan sikap internasional negara kita Indonesia

Terinspirasi setelah berdiskusi dengan Bapak Rachmawan Budiarto, dosen jurusan teknik fisika UGM.

semoga bermanfaat dan membuka pikiran kita semua

I’M BACK.

Posted: Oktober 11, 2014 in Uncategorized

setelah dua tahun absen menulis di blog ini akhirnya saya berkesempatan untuk kembali bertukar ide cerita dan pikiran dalam blog ini, mohon maaf kalau kelamaan absen ( 2 tahun lebih ). dan mudah mudahan masih bisa memberikan tulisan tulisan terbaik untuk semua kalangan

Cuti menulis untuk sementara waktu

Posted: Desember 26, 2011 in Uncategorized

Berhubung saya sekarang telah duduk di kelas 3 SMA dan sebentar lagi aka berhadapan dengan dengan UN , SNMPTN dan testes lainnya

maka kegiatan postingan di blog ini seperti telah terjadi selama berbulan bulan sebelumnya akan di vakum kan untuk sementara waktu.

sampai jumpa lagi di tahun ajaran baru dengan status saya yang sudah menjadi mahasiswa *amiiiiin*

Suatu kejadian sejarah luar biasa dimulai di pagi buta tanggal 6 Juni 1901 , Raden Soekeni Sosrodihardjo seorang guru pada masa kolonial Belanda merasa sangat cemas atas keselamatan istrinya  Ida Ayu Nyoman Rai yang sedang melahirkan anak keduanya .  Kedua suami istri ini mengharapkan anak keduanya adalah seorang lelaki dan entah kenapa sebelum kelahiran anak keduanya kedua suami istri ini berfirasat bahwa anak yang akan lahir kelak akan menjadi seorang pemimpin besar di sebuah negara baru.

Menjelang fajar menyingsing terdengar suara tangisan bayi di tempat persalinan Ida Ayu, ternyata benar seorang bayi lelaki dengan tangisan yang sangat kuat telah lahir kedunia tepat disaat fajar menyingsing menyinari rumah keluarga Soekeni pada tanggal 06 Jui 1901 di dekat pemakaman Belanda di kota Surabaya.  Dengan bangga Soekeni menimang anaknya dan berkata ” engkau adalah Putra Sang Fajar yang kelak akan memimpin bangsa ini menuju kejayaan”  . Bayi yang baru lahir itu diberi nama Soesno Sosrodihardjo yang kelak seluruh dunia akan mengenalnya sebagai orator paling ulung di muka bumi yang berasal dari negara Besar di Asia Tenggara bernama Indonesia , orator ulung sekaligus Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Ir.Sukarno. Orang tuanya menggganti nama Soesno Sosrodihardjo menjadi Sukarno karena namanya diangap tidak mengundang berkah dikarenakan ia sering sakit-sakitan . Sukarno diambil dari salah seorang tokoh Kurawa dalam kisah Bharatayuda yaitu Karna . Hanya beberapa waktu setelah Sukarno dilahirkan, Soekeni dipindahtugaskan ke Blitar dan seluruh keluarganya pun pindah ke Blitar.

Sukarno muda, banyak memperoleh ilmu kebatinan dari ibundanya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai yang merupakan keturunan bangsawan hindu dari Bali. Ilmu inilah yang diyakini menjadikan Sukarno sebagai orang yang kuat secara metafisika. Hanya beberapa tahun tinggal bersama orang tuanya setelah pindah ke Blitar  , Sukarno kecil tinggal bersama kakeknya Raden Hardjokrmo di Tulung Agung  dan menamatkan pendidikan dasar di Tulung Agung. Setelah itu berhubung ayahnya dipindah tugaskan di Eerste Inlandse School (ELS) Sukarno mengikuti ayahnya pindah ke Mojokerto dan bersekolah di Eerste Inlandse School. Setelah menamatkan pendidikan di Eerste Inlandse School , Sukarno melanjutkan pendidikan ke Hoogere Burger School (HBS) Sukarno dapat menimba ilmu di Hoogere Burger School  di Surabaya berkat bantuan salah seorang tokoh pergerakan nasional bernama H.O.S Tjokroaminoto yang kebetulan merupakan sahabat ayahnya.

Di Surabaya Sukarno tinggal dirumah H.O.S Tjokroaminoto, di sinilah nasionalisme Sukarno terbentuk karena Sukarno banyak bertemu dengan tokoh pergerakan nasional saat itu khususnya yang tergabung dalam Sarekat Islam (S.I) pimpinan H.O.S Tjokroaminoto seperti Musso (S.I Merah) , Agus Salim & Abdul Muis (S.I Putih).  S.I Merah dikemudian hari akan memisahkan diri dari S.I dan membentuk Partai Komunis Indonesia (PKI) . H.O.S Tjokroaminoto mempunyai peran yang sangat besar bagi terbentuknya kepribadia Sukarno karena selain sebagai pintu masuk Sukarno ke dalam organisasi pemuda pergerakan nasional seperti Tri Koro Darmo dan Budi Utomo , Sukarno juga diberikan kesempatan menyalurkan ide-idenya melalui harian “Oetoesan Hindia” yang dipimpin H.O.S Tjokroaminoto.

Tahun 1920 Sukarno menamatkan pendidikannya di HBS dan melanjutkan pendidikan di Technische Hoge School (ITB)  Bandung , Sukarno mengambil jurusan teknik sipil , Di Bandung Sukarno tinggal di rumah Haji Sanusi seorang anggota Sarekat Islam ,sahabat dari Tjokroaminoto. Di Bandung rasa Nasionalis Sukarno makin berkembang karena ia kerap berinteraksi dengan lebih banyak tokoh pergerakan seperti Ki Hajar Dewantara , Douwes Dekker , dan juga Cipto Mangunkusumo yang ketiganya merupakan tokoh Indische Partij.

Selesai menimba ilmu di ITB tahun 1926 Sukarno memperoleh gelar “Ir” yang saat itu masih sangat langka warga pribumi memperoleh gelar “Ir” . Sukarno makin aktif dalam perjuangan pergerakan nasional dengan mendirikan Algemene Studie Club   yang merupakan cikal bakal Partai Nasional Indonesia , didirikan tahun 1927 PNI bersama Sukarno banyak melakukan aktivitas yang meresahkan Belanda sehingga pada tahun 1929 Sukarno ditangkap dan dipenjarakan di penjara Banceuy hingga 1930 ia dipindahkan di penjara Sukamiskin, pada saat dipenjarakan di Sukamiskin inilah Sukarno mengajukan pidato pledoinya yang sangat terkenal yang berjudul Indonesia Menggugat hingga akhirnya ia ia dibebaskan pada Desember 1931.

Saat Sukarno dipenjara, PNI mengalami perpecahan dengan dibentuknya Partai Indonesia(PARTINDO) . Sukarno selepas dari penjara bergabung dengan Partindo dan memulai kembali aktifitas politiknya, dan Belanda pun kembali resah terhadap aktifitas politik Sukarno hingga kembali menangkapnya dan kemudian mengasingkan Sukarno ke Ende, Flores pada tahun 1933. Di Flores Sukarno terputus koneksinya dengan tokoh pergerakan pusat sehingga hampir tidak lagi dianggap.

Suasana flores yang tenang tidak seramai di Jawa membuat Sukarno banyak memikirkan konsep-konsep mengenai Republik Indonesia kelak setelah merdeka 5 butir kalimat Pancasila merupakan salah satu hasil pemikiran Sukarno di Ende, Sukarno sering merenung di bawah pohon besar yang menghadap ke laut di tepian pulau Ende, di tempat Sukarno biasa merenungkan idenya kini telah dibangun monumen Sukarno untuk mengenangnya. Di Ende pulalah Sukarno memprakarsai tonil (semacam grup teater) bernama toneel grup kelimutu yang selalu tampil di komplek gereja di Ende. Karena di Ende belum ada bioskop saat itu , penampilan grup tonil Sukarno selalu ramai di tonton orang. Salah satu naskah teater Sukarno saat itu yang berjudul “1945”  mebuat seolah Sukarno memiliki indera keenam karena dalam naskah tersebut dikisahkan bawah Indonesia akan merdeka pada tahun 1945 , sesuatu yang baru akan terjadi 15 tahun setelah naskah tersebut selesai dibuat.

Pada tahun 1938 Sukarno dipindahkan ke pulau Bengkulu hingga saat Jepang datang ke Indonesia, propaganda Jepang yang ingin menarik simpati bangsa Indonesia membuat Jepang membebaskan seluruh tahanan politik pada masa Belanda. Bukan hanya membebaskan, tetapi Jepang pun mendirikan banyak organisasi-organisasi kepemudaan yang diisi oleh para tokoh pergerakan nasional seperti contohnya PUTERA(Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin oleh 4 serangkai (Sukarno,Hatta,Ki Hajar Dewantoro,KH Mas Mansyur). Sukarno terkenal sebagai seorang tokoh yang mengandalkan cara kooperatif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yaitu berjuang tanpa kekerasan , prinsip itulah yang menyebabkan ia tidak pernah terburu-buru saat mengambil keputusan seperti saat golongan bawah tanah memaksanya membacakan proklamasi pada tanggal 15 Agustus ia menolak dengan alasan walaupun Jepang telah kalah perang tetapi tetap tidak bisa ditandingi secara militer oleh Indonesia.

Ahirnya pada tanggal 16 Agustus malam golongan bawah tanah mengamankan Sukarno yang dianggap telah terkontaminasi pengaruh Jepang ke daerah Rengasdengklok di Karawang, setelah diyakinkan bahwa keesokan harinya pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan saat yang paling tepat bagi bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya Sukarno pun dipulangkan ke Jakarta dan langsung mengadakan rapat bersama para anggota PPKI di rumah laksamada Tadashi Maeda , seorang perwira angkatan laut Jepang yang berpihak pada Indonesia.  Mereka membahas pelaksanaan proklamsi kemerdekaan Indonesia yang rencananya digelar di lapangan ikada (sekarang MONAS) , dan merumuskan teks proklamasi bersamaan dengan pelaksanaan makan sahur karena saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Akhirnya teks proklamasi tulisan tangan Sukarno selesai dengan banyak koreksi dan sesuai kesepakatan ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia , naskah asli tulisan Sukarno di ketik ulang oleh Sayuti Melik dan akhirnya dibuang sebelum dipungut dari tempat sampah oleh wartawan B.M Diah.

Pagi harinya pasukan PETA melaporkan bahwa Jepang telah bersiaga di lapangan Ikada, untuk mengantisipasi keadaan Sukarno memindahkan pembacaan proklamasi ke rumahnya di Pegangsaan Timur 56 Jakarta. dengan keadaan lemas karena penyakit malaria yang dideritanya ditambah kelelahan akibat bergadang semalaman mempersiapkan proklamasi dengan kawan-kawannya Sukarno membacakan Proklamasi dengan khidmat dan penuh wibawa dalam sebuah upacara sederhana di depan rumahnya.

Keesokan harinya pada 18 Agustus 1945 Sukarno bersama Hatta dipilih secara aklamasi sebagai Presiden dan Wakil Presiden oleh anggota PPKI atas usulan tokoh Pasundan Otto Iskandardinata. dengan naiknya Sukarno sebagai Presiden telah membuktikan firasat kedua orang tuanya saat Sukarno lahir karena ia benar-benar menjadi Putra Sang Fajar Pemimpin Negara baru bernama Indonesia.

Kisah sejarah mengenai perjuangan tokoh besar nasional tidak boleh lekang oleh waktu dan harus selalu dilestarikan oleh kaum muda yang kelak akan mewarisi semangat para pahlawan untuk membangun negeri Indonesia yang sejahtera. Karena masa depan bangsa ada di tangan kaum muda, dan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya sehingga kaum muda calon pemimpin bangsa haruslah memahami dan mewarisi semangat para pahlawannya ..

Selamat hari jadi ke-110 Ir.Sukarno

Maju terus, Pantang mundur !!
PANCASILA
  1. KETUHANAN YANG MAHA ESA
  2. KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
  3. PERSATUAN INDONESIA
  4. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN, DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN
  5. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

5 butir kalimat diatas (seharusnya) sudah sangat familiar di telinga bangsa Indonesia dan juga sudah mendarah daging di setiap warga negara Indonesia. Ya ! kalimat diatas adalah 5 butir dasar negara kita Negara Kesatuan Republik Indonesia , dasar negara yang akrab kita kenal sebagai PANCASILA (panca=5, sila=kalimat/butiran) hari ini 1 Juni 2011 merupakan hari ulang tahun PANCASILA yang ke-65. Walaupun pencetusan PANCASILA baru dilakukan beberapa bulan sebelum proklamasi kemerdekaan, tetapi para pendiri bangsa kita meyakini bahwa PANCASILA telah tumbuh di sanubari rakyat Nusantara jauh sebelum itu bahkan mereka meyakini bahwa PANCASILA telah ada bersamaan dengan masuknya zaman sejarah di nusantara. Untuk memperingati hari lahirnya PANCASILA , saya akan memaparkan kepada anda semua sejarah mengenai PANCASILA

Pencetusan PANCASILA sebagai dasar negara tidak mungkin terlepas dari peranan suatu organisasi buatan Jepang yang bernama Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau sering disingkat BPUPKI , BPUPKI dibentuk Jepang yang saat itu sudah sangat terdesak oleh tentara sekutu sebagai kedok untuk mengambil hati rakyat Indonesia agar tidak lagi melakukan perlawanan militer terhadap Jepang yang sudah dalam kondisi lemah.

BPUPKI dibentuk tanggal 29 April 1945 , anggota BPUPKI merupakan gabungan semua unsur ras dan golongan yang ada di Hindia Belanda saat itu yaitu Jawa, Sunda, Sumatera, Celebes, Tionghoa, dan bahkan Jepang sendiri. Diketuai oleh Radjiman Widyodiningrat dan wakil ketuanya merupakan pria berkebangsaan Jepang bernama Yosio Hibangase. Walapun dibentuk hanya sebagai kedok Jepang , tetapi para tokoh pergerakan Nasional seperti Sukarno, Supomo, M.Yamin dan lainnya mempergunakan BPUPKI dengan sungguh-sungguh untuk menyusun apa-apa saja yang diperlukan bangsa Indonesia setelah merdeka kelak.

BPUPKI pun melakukan rapat pertamanya pada tanggal 28 Mei 1945 , rapat pertama ini mengagendakan mengenai rumusan dasar dan falsafah negara Indonesia. Rapat pertama berlangsung selama 5 hari hingga tanggal 1 Juni, dan dalam 5 hari itu ada 3 orang yang mengajukan draf rancangan dasar negara yaitu:

  • Muhammad Yamin pada tanggal 29 Mei berpidato mengenai dasar negara dan menyimpulkan lima asas yaitu :
  1. Peri Kebangsaan
  2. Peri Ketuhanan
  3. Kesejahteraan Rakyat
  4. Peri Kemanusiaan
  5. Peri Kerakyatan
  • Supomo pada tanggal 31 Mei mengusulkan 5 asas yaitu :
  1. Persatuan
  2. Mufakat Demokrasi
  3. Keadilan Sosial
  4. Kekeluargaan
  5. Musyawarah
  • dan akhirnya Sukarno berpidato pada tanggal 1 Juni yang kemudian ia menyimpulkan 5 asas yang ia namai PANCASILA yaitu :
  1. Kebangsaan Indonesia
  2. Internasionalisme dan Peri Kemanusiaan
  3. Mufakat atau Demokrasi
  4. Kesejahteraan Sosial
  5. Ketuhanan Yang Maha Esa

Dalam pidatonya , Sukarno menyebutkan bahwa PANCASILA dapat diperas menjadi TRISILA yang berisi :

  1. Sosionasionalisme
  2. Sosiodemokrasi
  3. Ketuhanan dan berkebudayaan

Dan Sukarno pun menyebutkan bahwa TRISILA dapat diperas kembali menjadi EKASILA yaitu:

  1. Gotong Royong

Hal tersebut mencerminkan bahwa asas yang paling dasar bagi Negara Kesatuan adalah kerjasama yang erat antar rakyatnya. Dengan menerapkan prinsip gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat , Sukarno meyakini bahwa Indonesia akan menjadi negara yang sejahtera dan sentosa.

Selesai sampai disanakah proses kelahiran suatu dasar negara? segampang itukah ? tentu tidak.

Seperi yang anda liat , PANCASILA yang kita kenal sekarang berbeda dengan apa yang di ajukan Sukarno di Rapat BPUPKI pada 1 Juni 1945. mengapa demikian? Simak kisahnya !

Setelah rapat pertama BPUPKI yang membahas dasar negara selesai dan tidak menghasilkan rumusan yang diterima semua pihak sebagai dasar negara, sehingga BPUPKI menyerahkan mandat perumusan dasar negara kepada panitia 9 yang diketuai Sukarno. BPUPKI membentuk panitia 9 karena tugas BPUPKI sendiri yang masih belum selesai diantaranya membahas masalah keuangan,ekonomi,wilayah negara ,dan kewarganegaraan.

Panitia 9 yang diketuai Sukarno bertanggung jawab dalam perumusan dasar negara , panitia 9 beranggotakan :

  1. Sukarno golongan Nasionalis
  2. Muhammad Hatta golongan Nasionalis
  3. Ahmad Subarjo golongan Nasionalis
  4. Muhammad Yamin golongan Nasionalis
  5. Wahid Hasyim golongan Islam
  6. Abdul Kahar Muzakir golongan Islam
  7. Abikusno Cokrosuyoso golongan Islam
  8. Agus Salim golongan Islam
  9. A.A Maramis golongan Kristen

keputusan final rapat panitia sembilan yang dikeluarkan tanggal 22 Juni 1945 yang dikenal sebagai Jakarta Charter menyatakan bahwa dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebagai berikut :

  1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Yaa! akhirnya rumusan dasar negara yang kita kenal sebagai PANCASILA resmi sudah tercetuskan melalui suatu piagam bernama Piagam Jakarta atau Jakarta Charter. tapi … perhatikan baik-baik , perhatikan di sila pertama ! ternyata masih belunm sama persis seperti yang kita kenal sekarang , disana masih terdapat kalimat ” kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” ternyata perumusan dasar negara yang akan abadi selamanya tidak akan bisa dibuat semudah itu , masih terdapat sebuah kisah tentang revisi akhir dari PANCASILA

Ada banyak versi cerita yang saya dapat mengenai kejadian sebenarnya perubahan sila pertama PANCASILA yang terdapat di Piagam Jakarta disini saya akan mencoba membeberkan secara singkat berbagai versi mengenainya

  1. Golongan Nasionalis pimpinan Sukarno disaat terakhir pada tanggal 18 Agustus 1945 sesaat sebelum pengesahan UUD dan dasar Negara oleh PPKI Sukarno melobi golongan Islam (Wahid Hasyim dkk) untuk menghormati golongan non Islam dalam kehidupan bermasyarakat . Dan untuk menjaga keutuhan dan kesatuan NKRI , Sila pertama diubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa  agar dapat diartikan mencakup kesemua 5 agama yang ada di Indonesia
  2. Versi kedua merupakan versi yang lebih keras karena menyebutkan bahwa Hatta menerima laporan dari seorang pimpinan polisi Jepang yang melaporkan bahwa terbentuk sebuah gerakan separatis Kristen yang tidak setuju dengan sila pertama pada PANCASILA. Hatta pun segera menyampaikan hal itu kepada Panitia sembilan  dan langkah merubah sila pertama untuk menjaga keutuhan NKRI pun diambil. Versi kedua ini masih kurang kuat dikarenakan bukti-bukti yang minim , seperti siapakah pimpinan polisi tersebut? dan dimanakah gerakan separatis Kristen itu terbentuk masih belum diketahui

Dari kedua versi tersebut , dapat diambil kesimpulan bahwa para Founding Father mengambil keputusan mengubah sila pertama PANCASILA merupakan langkah untuk menghormati NKRI dan menjamin kebebasan siapapun rakyat di negara ini untuk memeluk agama tanpa paksaan .Dengan segala kejadian yang kontroversial tersebut akhirnya pada tanggal 18 Agustus 1945 PPKI meresmikan PANCASILA yang seperti kita kenal sekarang sebagai dasar dan falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kisah mengenai kelahiran PANCASILA memang sudah selesai sampai disini, tapi usaha kita dalam menegakkan PANCASILA takkan pernah usai , sampai kapanpun juga , siapapun juga yang mengaku sebagai warga negara Indonesia asli dalam lubuk hatinya haruslah tertanam butir-butir PANCASILA untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa bahwa Indonesia dengan segala kekayaannya akan sejahtera dengan kerja sama antar rakyatnya. karena asas paling dasar dalam PANCASILA adalah gotong royong

SELAMAT HARI LAHIR PANCASILA

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya , Majapahit berdiri atas siasat seorang tokoh penting master siasat yang tak tertandingi Arya Wiraraja  .Jika Arya Wiraraja adalah seorang ahli taktik , otak dalam segala tindak tanduk Raden Wijaya mendirikan Majapahit,kali ini saya akan mencoba menceritakan tokoh lain yang tak kalah penting yang juga berandil besar dalam berdirinya Majapahit yaitu para abdil setia Raden Wijaya yang tak kenal lelah mendampingi Wijaya dalam usaha pendirian Majapahit dari semenjak melarikan diri dari pasukan Kediri di Singasari,bersembunyi di Sumenep , hingga akhirnya bahu membahu bergotong royong membangun hutan tarik di Desa Trowulan menjadi sebuah dusun kecil cikal bakal Kerajaan besar Majapahit. Mereka dikenal sebagai 9 arya terkemuka Singasari.yang terdiri dari Ranggalawe,Nambi,Sora,Gajah Pagon,Banyak Kapuk,Pedang,Dangdi,Peteng. Di bagian ke 4 ini saya akan membawakan sosok seorang Gajah Pagon yg tak lain adalah ayah dari Gajah Mada yang kelak akan menjadi Mahapatih terbesar Majapahit :

4. Gajah Pagon


Gajah Pagon memiliki latar belakang sama seperti ke-8 arya terkemuka lainnya , ia adalah salah seorang prajurit tangguh singasari yang selamat dari pemberontakan Jayakatwang dan dengan setia mengawal Raden Wijaya dalam pelariannya dari prajurit Kediri. tetapi berbeda dengan yang lainnya, Gajah Pagon tidak melanjutkan perjalanan ke Sumenep berlindung di naungan Arya Wiraraja tetapi ia menetap di sebuah daerah bernama Pandakan , ia tidak melanjutkan perjalanan karena dirinya terluka saat berperang melawan Kediri. Walaupun dapat bertahan dalam pelarian dari Jayakatwang pada akhirnya Gajah Pagon tetap berdiam di Pandakan di bawah perlindungan Kepala Desa Pandakan yang bernama Macan Kuping . Gaja Pagon menetap di Pandakan tanpa dtemani satupun prajurit Singasari , hal itu dilakukan semata-mata untuk melindungi Gajah Pagon sendiri agar proses penyembuhannya di Desa Pandakan tidak diketahui oleh Jayakatwang.

Setelah kawan-kawannya para Arya Singasari beserta Raden Wijaya sukses membangun Trowulan dan mendirikan Majapahit, Gajah Pagon yang sudah sembuh total tidak ikut menyusul Raden Wijaya melainkan benar-benar menetap di Pandakan dan memperistri anak perempuan dari Macan Kuping . Saat para sahabatnya mendapat jabatan tinggi dari Raden Wijaya , Gajah Pagon tidak ikut memintanya , ia puas hanya menjabat sebagai Kepala Desa di Pandakan menggantikan mertuanya Macan Kuping.

Gajah Pagon merupakan satu dari sedikit Arya Singasari yang tidak terkena fitnahan dari Mahapati , dan juga tidak diadu domba dengan Arya lainnya sebagaimana Sora, Nambi , maupun Ranggalawe. Hidupnya yang jauh dari Istana telah membuatnya tidak diperhitungkan oleh Mahapati sebagai saingan untuk menjadi Mahapatih Majapahit. Sifat rendah hatinya pun tidak menjadikannya pemberontak seperti Ranggalawe yang memberontak karena kecemburuan terhadap jabatan Mahapatih yang diberikan kepada Nambi, ia sangat puas hanya menjadi seorang kepala Desa Pandakan .

Tetapi kiprah Gajah Pagon tidak berhenti sampai disana. Putranya  kelak akan dikenang sebagai tokoh terbesar di Majapahit melebihi para Raja yang memerintah Majapahit . Tokoh yang pertama kali merintis visi yang di masa depan dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seorang Lurah prajurit Bhayangkara (semacam PASPAMPRES pada zaman sekarang) yang berjasa besar menyelamatkan Majapahit dari pemberontakan Kuti, dan pada akhirnya karena jasa-jasa besarnya ia diangkat sebagai Mahapatih Majapahit dengan Sumpahnya yang terkenal yaitu Sumpah Amukti Palapa. sebuah sumpah pantangan melakukan kenikmatan duniawi sebelum menaklukan seluruh kawasan Nusantara.dialah Rakrian Mahapatih Amangkubumi Majapahit Gajah Mada ..

melaui putranya Gajah Mada , kesabaran dan kesetiaan Gajah Pagon pun terbayar lunas .

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya , Majapahit berdiri atas siasat seorang tokoh penting master siasat yang tak tertandingi Arya Wiraraja  .Jika Arya Wiraraja adalah seorang ahli taktik , otak dalam segala tindak tanduk Raden Wijaya mendirikan Majapahit,kali ini saya akan mencoba menceritakan tokoh lain yang tak kalah penting yang juga berandil besar dalam berdirinya Majapahit yaitu para abdil setia Raden Wijaya yang tak kenal lelah mendampingi Wijaya dalam usaha pendirian Majapahit dari semenjak melarikan diri dari pasukan Kediri di Singasari,bersembunyi di Sumenep , hingga akhirnya bahu membahu bergotong royong membangun hutan tarik di Desa Trowulan menjadi sebuah dusun kecil cikal bakal Kerajaan besar Majapahit. Mereka dikenal sebagai 9 arya terkemuka Singasari.yang terdiri dari Ranggalawe,Nambi,Sora,Gajah Pagon,Banyak Kapuk,Pedang,Dangdi,Peteng.  Setelah sebelumnya Ranggalawe dan Nambi sudah selesai dibahas, kali ini saya akan membawakan kepada anda sosok seorang Sora , paman dari Ranggalawe salah seorang abdi terdekat dari Raden Wijaya yang sama seperti Nambi menjadi korban fitnah dari Mahapati.

3.SORA

Mpu Sora adalah nama salah seorang pengikut Raden Wijaya yang berjasa besar dalam perjuangan mendirikan Kerajaan Majapahit ia ikut berjuang dari mulai pelarian bersama 8 arya lainnya dari kejaran pasukan Kediri hingga ketika membangun hutan tarik di Trowulan. Sora ikut mengawal Raden Wijaya sewaktu menghindari kejaran pasukan Jayakatwang dari Kediri yang menaklukan Singasari. Sora dengan setia menyediakan perutnya sebagai tempat duduk Raden Wijaya dan istrinya saat keduanya beristirahat. Ia juga menggendong istri Wijaya saat menyeberangi sungai dan rawa-rawa.

 Ia pun merupakan saudara dari sang Ahli taktik Arya Wiraraja, karena itulah setelah Majapahit berdiri sama seperti Ranggalawe ,Sora pun tidak mendapat posisi yang penting melainkan hanya sebagai patih Kediri, begitu takutnya Wijaya terhadap Arya Wiraraja sehingga ia tega mengkhianati sahabat dekatnya sendiri . Keputusan Raden Wijaya tersebut konon memicu pemberontakan Ranggalawe pada tahun 1295. Ranggalawe berpendapat bahwa Sora lebih pantas diangkat sebagai rakryan patih Majapahit daripada Nambi. Namun meskipun Ranggalawe adalah keponakan Sora, namun Sora justru mendukung Raden Wijaya supaya tetap mempertahankan Nambi sebagai patih Majapahit.

 Ia sering dianggap sebagai abdi Raden Wijaya yang paling setia, namun akhirnya mati sebagai pemberontak di halaman istana Majapahit pemberontak akibat fitnah yang keji dari seorang tokoh keji haus kekuasaan bernama Mahapati.

Dikisahkan bahwa, Sora ikut serta dalam pasukan Majapahit yang bergerak menumpas pemberontakan Ranggalawe di Tuban. Dalam pertempuran di Sungai Tambak Beras, Ranggalawe mati di tangan Kebo Anabrang yang melakukan perang tanding secara tidak jantan. Diam-diam Sora merasa sakit hati melihat keponakannya dibunuh secara kejam dan dengan taktik yang kotor. Ia pun berbalik ganti membunuh Kebo Anabrang dari belakang.

Peristiwa pembunuhan terhadap rekan satu pasukan tersebut seolah-olah didiamkan begitu saja. hal itu dikarenakan keluarga Kebo Anabrang segan menuntut hukuman pengadilan karena Sora dianggap sebagai abdi kesayangan Raden Wijaya.

Suasana kusut itu akhirnya dimanfaatkan oleh Mahapati, seorang tokoh licik yang mengincar jabatan rakryan patih. Ia menghasut putra Kebo Anabrang yang bernama Mahisa Taruna supaya berani menuntut pengadilan untuk Sora. Ia juga melapor kepada Raden Wijaya bahwa para menteri merasa resah karena raja seolah-olah melindungi kesalahan Sora.

Raden Wijaya tersinggung karena dituduh berlaku tidak adil. Ia pun memberhentikan Sora dari jabatannya untuk menunggu keputusan lebih lanjut. Mahapati segera mengusulkan supaya Sora jangan dihukum mati mengingat jasa-jasanya yang sangat besar. Atas pertimbangan tersebut, Raden Wijaya pun memutuskan bahwa Sora akan dihukum buang ke Tulembang.

Mahapati menemui Sora di rumahnya untuk menyampaikan surat keputusan raja. Sora sedih atas keputusan itu. Ia berniat ke ibu kota meminta hukuman mati daripada harus diusir meninggalkan tanah airnya.

Mahapati lebih dulu menghasut Nambi dengan mengatakan bahwa Sora akan datang untuk membuat kekacauan karena tidak puas atas keputusan raja. Setelah mendesak Raden Wijaya, Nambi pun diizinkan menghadang Sora yang datang bersama dua orang sahabatnya, yaitu Gajah Biru dan Juru Demung. Sora yang berniat hanya menghadap kepada Raden Wijaya tiba-tiba kaget karena dihadang Nambi yang atas hasutan Mahapati menganggap bahwa Sora akan melakukan tindakan berbahaya terhadap Raden Wijaya. Nambi pun langsung berperang tanding dengan Sora sahabat dekatnya sendiri sesama mantan Arya terkemuka Singasari , Sora yang sama sekali tidak berniat untuk berperang tanding akhirnya tewas di tangan Nambi.

Dan setelah peristiwa tersebut senyum Mahapati sang pemfitnah ulung pun mengembang karena siasatnya mengadu domba para sahabat Raden Wijaya kembali berhasil. Ia pun makin dekat dengan Jabatan Mahapatih Majapahit karena para tokoh-tokoh pendiri Majapahit sudah terpecah belah ,dan Raden Wijaya semakin paranoid akan kehilangan tahtanya.

(bersambung)

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya , Majapahit berdiri atas siasat seorang tokoh penting master siasat yang tak tertandingi Arya Wiraraja  .Jika Arya Wiraraja adalah seorang ahli taktik , otak dalam segala tindak tanduk Raden Wijaya mendirikan Majapahit,kali ini saya akan mencoba menceritakan tokoh lain yang tak kalah penting yang juga berandil besar dalam berdirinya Majapahit yaitu para abdil setia Raden Wijaya yang tak kenal lelah mendampingi Wijaya dalam usaha pendirian Majapahit dari semenjak melarikan diri dari pasukan Kediri di Singasari,bersembunyi di Sumenep , hingga akhirnya bahu membahu bergotong royong membangun hutan tarik di Desa Trowulan menjadi sebuah dusun kecil cikal bakal Kerajaan besar Majapahit. Mereka dikenal sebagai 9 arya terkemuka Singasari.yang terdiri dari Ranggalawe,Nambi,Sora,Gajah Pagon,Banyak Kapuk,Pedang,Dangdi,Peteng.  Setelah dalam postingan sebelumnya saya telah membeberkan kisah seorang Ranggalawe, sekarang saya akan mencoba membahasa salah seorang tokoh yang tak kalah pentingnya yaitu Mahapatih pertama Majapahit Nambi.

2. Nambi

Nambi, tidak berbeda jauh dengan Ranggalawe, nama Nambi pun sangat identik dengan seorang pengkhianat yang berusaha melakukan kudeta atas tahta Majapahit,begitulah yang diceritakan dalam buku Sejarah di Sekolah. Pada kenyataannya Nambi sama sekali tidak melakukan kudeta terhadap Majapahit , ia merupakan seorang Patih yang sangat setia kepada kerajaan Majapahit. Ia hanyalah korban fitnah dan tipu muslihat, fitnah dan tipu muslihat yang dilakukan oleh seorang licik yang haus kekuasaan bernama Mahapati

Nambi sama seperti 8 Arya lainnya merupakan abdi setia Raden Wijaya , ikut membantu segala perjuangan Raden Wijaya dalam membangun Majapahit dari mulai bergerilya di hutan menghindari pasukan Kediri, hingga bahu membahu membangun hutan Tarik menjadi sebuah desa kecil cikal bakal Kerajaan Majapahit. Dalam penyerbuan kembali Kerajaan Kediri yang dilakukan oleh pasukan Wijaya dengan dibantu pasukan Sumenep dan Mongol ,Nambi berhasil membunuh salah seorang pengikut setia Jayakatwang yang bernama Kebo Rubuh. Atas jasa-jasanya selama masa pendirian Majapahit, Raden Wijaya sang Raja pertama Majapahit mengangkat Nambi menjadi Mahapatih Majapahit, sebuah pengangkatan yang kontroversial dan memicu banyak tanggapan negatif terutama dari sahabat Nambi sendiri Ranggalawe , yang sempat dijanjikan jabatan Mahapatih oleh Wijaya, dan hanya karena Ranggalawe putra Arya Wiraraja yang menyebabkan Wijaya berprasangka buruk terhadap Ranggalawe jikalau ia dengan bantuan ayahandanya akan merebut tahta Majapahit dari tangannya. Dilandasi atas ketakutannya tersebut, Wijaya menginkari janjinya pada Ranggalawe dan menunjuk Nambi sebagai Mahapatih.

Saat pemberontakan Ranggalawe terjadi , Nambi memimpin pasukan Majapahit menumpas pemberontakan yang dilandasi rasa dendam dan sakit hati tersebut. Ia pun melakukan tugas dengan baik walaupundalam perang melawan pemberontak tersebut terjadi suatu konflik yang kelak akan berakibat pecahnya 9 Arya Singasari, konflik tersebut tak lain adalah terbunuhnya Kebo Anabrang di tangan Sora (salah seorang Arya terkemuka Singasari lainnya) Sora membunuh Anabrang hanya karena ia melakukan taktik kotor dalam perang tanding menaklukan Ranggalawe. Anabrang memerintahkan pasukan Majapahit mengepung Ranggalawe dalam sebuah pernag tanding yang notabene hanya boleh melibatkan 2 orang. Ranggalawe pun tewas mengenaskan di keroyok pasukan Majapahit atas suruhan Anabrang. Tetapi sesaat setelah Ranggalawe tewas , Sora yang tak lain adalah paman dari Ranggalawe mengamuk lantaran tidak terima atas taktik kotor yang dilakukan Anabrang dalam pembunuhan keponakannya, ia lalu tanpa ampun membunuh Kebo Anabrang. Pembunuhan Anabrang oleh Sora kelak akan dimanfaatkan seorang licik yang haus kekuasaan yang bernama Mahapati untuk mengadu domba 9 Arya terkemuka Singasari yang pada masa Majapahit masing-masing mempunyai jabatan penting tersendiri.

Suatu saat Arya Wiraraja jatuh sakit , Nambi pun meminta cuti untuk menengok keadaan Arya Wiraraja yang “diasingkan” secara halus ke daerah Lumajang. Kejadian ini terjadi pada masa pemerintahan Jayanegara putra Raden Wijaya. Kepergian Nambi ke Lumajang benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Mahapati yang mengincar tahta Patih Majapahit yang dipegang Nambi. Ia lantas menghasut Jayanegara dengan memfitnah Nambi, ia mengatakan pada Jayanegara bahwa Nambi dengan dibantu Arya Wiraraja sedang merundingkan sebuah upaya kudeta terhadap tahta Majapahit padahal sebenarnya saat Nambi tiba di Lumajang, Arya Wiraraja sudah tewas. Jayanegarayang sama  seperti raja-raja lainnya sangat takut kehilangan tahtanya, ia lantas termakan tipu daya Mahapati dan memerintahkan Lembu Peteng untuk memimpin pasukan dalam jumlah besar untuk menyerang Lumajang, Nambi yang hanya membawa sedikit pasukan tanpa dugaan sama sekali akan terlibat perang dengan mudah dibantai oleh pasukan Majapahit pimpinan Lembu Peteng yang tak lain adalah salah satu mantan Arya Singasari lainnya.

Jika mengetahui keadaan yang sebenarnya , Raden Wijaya mungkin menangis di alam baka melihat para abdi setianya satu persatu saling membunuh hanya karena tipu muslihat dan fitnah yang dilancarkan oleh seorang Mahapati

(bersambung)…


Sejarah Singasari sangat menarik untuk di bahas. berikut ini silsilah kerajaan Singasari yang berasal dari Ken Arok,Ken Dedes,Ken Umang, dan Tunggul Ametung

GENERASI PERTAMA

pada generasi pertama ini diwarnai dengan pembunuhan yg dilakukan Ken Arok terhadap tumapel Tunggul Ametung sehingga Arok berkesempatan mendirikan sebuah kerajaan baru bernama Singasari.tapi pembunuhan tidak hanya disana, korban keris pusaka pemberian mpu gandring kelak akan berjumlah 7 orang. Selamat menyimak !

Ken Arok beristri Ken Dedes mempunyai keturunan :

  • Mahisa Wongga Teleng ( Raja Kediri)
  • Panji Saprang
  • Agnibaya
  • Dewi Rimba

Tunggul Ametung beristri Ken Dedes mempunyai keturunan:

  • Anusapati (Raja ke-2 Singasari)

Anusapati membunuh bapak tirinya,Ken Arok dan akhirnya menjadi Raja kedua Singasari

Ken Arok beristri Ken Umang mempunyai keturunan :

  • Panji Tohjaya (Raja ke-3 Singasari)

Tohjaya membunuh Anusapati saudara tirinya untuk membalaskan dendam sang ayah yaitu Ken Arok dan Tohjaya pun menjadi Raja ketiga Singasari

  • Sudhatu
  • Wregda
  • Dewi Rambi
GENERASI KEDUA

Generasi kedua diwarnai dengan bergabungnya anak keturunan Anusapati anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung dengan anak keturunan Mahisa Wongga Teleng anak Ken Dedes dengan Ken Arok ,mereka mengambil tahta kerajaan dengan membunuh raja Tohjaya anak Ken Umang,mereka pun bahu membahu memimpin Singasari

Anusapati mempunyai anak

  • Ranggawuni (Raja ke-4 Singasari)

Ranggawuni lah yang  membunuh Tohjaya dan ia pun bertahta sebagai Raja keempat di Singasari .

Mahisa Wongga Teleng mempunyai anak

  • Mahisa Cempaka
  • Waning Hyung (Permaisuri ke 4 Singasari)
GENERASI KETIGA

Generasi ketiga diwarnai dengan bersatunya darah Ken Arok dan Tunggul Ametung dalam diri Seorang Sri Kertanegara.Kertanegara adalah raja terbesar Singasari yang berhasil menaklukan pulau Swarnabumi(sumatera) ke dalam kekuasaan Singasari . Di generasi ini pula muncul cikal bakal Raja Majapahit yaitu anak Dyah Lembu Tal ,Raden Sangrama Wijaya.

RANGGAWUNI MENIKAH dengan WANING HYUNG mempunyai keturunan :

  • Sri Kertanegara (Raja ke-5 Singasari) Kertanegara merupakan keturunan pertama yang mengandung darah Tunggul Ametung dan Ken Arok

MAHISA CEMPAKA MEMPUNYAI ANAK

  • Dyah Lembu Tal , dia bekerjasama bahu membahu bersama Kertanegara membangun Singasari.
GENERASI KEEMPAT

Generasi keempat kerajaan Singasari merupakan generasi Pertama Majapahit ditandai oleh sang pendiri Majapahit ,Sangrama Wijaya. di zaman generasi keempat Kediri dipimpin oleh Jayakatwang berhasil menaklukan kerajaan Singasari yang saat itu sedang lengah karena pasukannya sedang melakukan ekspedisi di Indonesia Timur. Jayakatwang pun duduk bertahta di Singasari selama setahun sebelum Sangrama Wijaya berhasil menaklukan Kediri dan mendirikan Majapahit.

DYAH LEMBU TAL MENIKAH DENGAN RAKEYAN JAYADARMA (PUTRA MAHKOTA KERAJAAN PAJAJARAN)

  • SANGRAMA WIJAYA ( Pendiri Sekaligus Raja Pertama Majapahit)